Selasa, 13 Desember 2016

Ngene Iki Seng Marengi Klepek2...

Aku merekamnya, nok. Merekam dengan mataku bagaimana kamu menjadi istri di hari pertama pernikahan kita. Aku menyaksikan punggungmu dari bingkai pintu, saat kamu di rias di dalam kamar aku menintipmu engkau pun menoleh dan aku sembunyi. Kamu mengerutkan dahi, kayak ada yang ngintip? Begitulah mungkin kamu berfikir. Memang, batinku... hehe. Aku menutupi tawa renyah dengan gumpalan tangan.
Aku merekamnya,nok. Merekam dengan retinaku bagaimana kamu mengusap peluh di pelipismu. Kamu sepertinya capek sekali. Pagi-pagi sudah mengingatkanku akan shalat subuh berjamaah saat aku di rumah, kadang membantu mbak membungkus jajanan pesanan, dan juga menyiapkan sarapan pagiku walaupun aku tau kau masih mempunyai kesibukan yang sama mengajar di sekolah. Maafkan jika hari itu aku pura-pura tidur, tak membantumu. Aku hanya ingin merekam semua kebaikanmu. Agar saat aku marah dan kesal padamu, rekaman itu dapat diputar kembali.
Kamu, yang dengan rela meninggalkan hobimu jalan-jalan dengan teman-temanmu, sekarang kumu tinggalkan semua itu demi menemani dan melayani aku. Meninggalkan kemanjaan bersama keluargamumu, meninggalkan kehangatan bersama kerabat, adik-adik dan keponakanmu yang lucu2. Itu semua demi aku? Lelaki yang baru dikenalmu ini? Oh sungguh, nok. Aku akan memurkai diriku sendiri jika seandainya aku menyakiti dirimu. Tidak. Aku tak akan menyakitimu. Aku akan berusaha untuk itu, nok.
Kamu, seorang perempuan yang dengan ikhlas melepaskan harapan, cita-cita, dan impianmu hanya untuk mewakafkan sisa hidupmu untuk lelaki seperti diriku. Melayaniku di sepenuh hari. Menenemaniku di sepanjang umur. Oh, nok. Bagaimana mungkin mata ini melototimu sedang aku melihat semuanya. Melihat pengorbananmu untukku. Tidak. Aku mungkin akan marah di sesekali waktu, namun sekeras-kerasnya marahku adalah setukil senyuman. Tidak akan kubiarkan tangan, lisan, atau bahkan hatiku menyakiti dirimu, nok. Insya Allah.
"Mas, sarapan riyin geh," titahmu di mulut pintu. Aku masih membungkus tubuhku dengan selimut. Tak berani menoleh. Aku takut kamu tahu kalau mataku sedikit basah. Maaf, aku memang selalu cengeng untukmu, Dik. Makasih, barangkali itulah pesan yang ingin disampaikan derai ini.
"Mas teseh bubuk? Capek geh?" katamu lagi. Kini kamu sudah duduk di tebing kasur. Mengusap bahuku. "geh mpun, nok panasin riyin nasi telore geh."
"O boten nok," ujarku sambil menyingkap selimut, "mpun bangun kok."
Kamu menatapku. Menyipitkan mata, lalu menyentuhkan ujung jempol di sudut mataku, "Mas kados tiang nangis?" Tanyamu.
"Sinten nangis, nok," kilahku, "mas nek bangun anci berair ngeten niki."
Aku nyengir.
Kamu ikutan nyengir. "ah boten kados biasane," katamu menggeleng.
Maafkan aku, nok. Ini kebohongan pertamaku kepadamu.
"Niki nasi telur spesial kagem mas," katamu di meja makan, "di incipi geh."
Kamu tahu, nok. Andai ini keasinan, maafkan sebab aku akan berbohong lagi, mengatakan bahwa ini makanan terlezat di muka bumi. Aku mengacungkan dua jempol, "Enak," pujiku dengan makanan yang masih tertahan di mulut. Aku tak perlu berbohong, ini memang enak.
Sebenarnya, ada kebohongan lagi. Ini hari Senin, dan aku selalu melaksanakan puasa Sunnah di hari ini. Aku sudah sahur jam dua tadi saat kamu terlelap. Tapi baiklah, tak apa tak puasa sehari. Demi menghormati kamu. Demi mencicipi makanan kamu. "pean boten maem?" Tanyaku sambil melahap, menghabiskan hampir setengah piring.
"Niki kan dinten Senin, mas. Maaf, ya. nok lagi puasa."
Aku tersedak. Mataku membulat.
"wonten nopo, mas?"
"Mas sebenarnya sedang puasa juga, nok. Curang."
"Kok boten sanjang dek wau," tanyamu sambil menahan tawa.
"Nok boten tangled."
Tak disangka, kamu meraih gelas. Menenggak air. Menatap dengan sedikit senyum saat mulutmu tepat di ujung gelas.
"Loh kok boten puasa," heranku.
"Tak batalin mawon, ngehormatin jenengan."
Aku tersenyum, Islam adalah ajaran sederhana. Puasa di luar ramadhan adalah Sunnah, sedang menyenangkan pasangan adalah wajib. Kita harus bersyukur dengan ajaran mulia ini, nok.
"Mas?"
"Iya, Nok?"
"Suapiiiiiiin...."
Ah, selain Iman dan Islam, kamu adalah nikmat terindahku, Nok. Kamu adalah surgaku. Selamanya.